Ke depan, jika naskah drama ini sudah jadi, bisa dimainkan oleh anak-anak di Desa Kemloko sebagai pertunjukan dalam beberapa event desa yang digelar. Sehingga, cerita dari relief candi di Penataran dapat dengan mudah dipahami masyarakat karena divisualisasikan dalam bentuk pertunjukan.
Atas terlaksananya PKL ini, dosen pengampu mata kuliah folklore Dr. Trisna Kumalah Satya Dewi berharap, “Sebagai mata kuliah, folklore bisa dipakai generasi sekarang agar lebih tau tradisi yang kita (masyarakat, Red) miliki. Sementara orang asing sangat antusias dengan tradisi kita.”
Sementara itu, Drs. Tubiyono, M.Si yang juga pengampu mata kuliah folklore mengatakan, “Melalui PKL ini mudah-mudahan perguruan tinggi bisa menginspirasi. Ke depan harapannya Kemloko menjadi salah satu komunitas wisata yang terintegrasi, antara makam Bung Karno, candi Penataran, serta Kemloko sebagai desa binaan FIB. Sehingga PKL dan pengmas ini menjadi kontribusi positif untuk pemberdayaan masyarakat melalui wisata budaya”.












