“Ini beton setebal 50 atau 60 senti loh (sentimeter),” ujarnya menegaskan bahwa proyek yang digagasnya tak main-main.
Tak hanya mengganti aspal dengan beton, kini masyarakat juga kian mudah melaporkan ruas jalan yang rusak melalui aplikasi M-BONK. Diambil dari bahasa Jawa, yaitu embong (jalan), aplikasi yang dirilis pada 2016 ini merupakan hasil kerja sama dengan Microsoft. Hampir dua tahun aplikasi ini berjalan, tingkat keberhasilannya mendekati 40 persen. Dari 100 lebih laporan yang masuk di pertengahan 2018, sebanyak 34 laporan dinyatakan selesai. Setiap pengguna dapat mengetahui data tersebut dari aplikasi M-BONK.
Saiful Ilah mengakui dinas PUPR Sidoarjo memiliki pekerjaan rumah yang wajib diselesaikan. Setidaknya, kata Saiful, aplikasi ini semakin mempermudah jajarannya mengetahui wilayah yang rusak sekaligus menjadi sarana komunikasi masyarakat kepada dinas terkait.
Sidoarjo rupanya kian akrab dengan teknologi informasi. Selain M-BONK, kabupaten berjuluk Kota Delta itu punya aplikasi Berkas Mlaku Dewe (berkas jalan sendiri, red). Kali pertama diperkenalkan pada 2015 di Kecamatan Sukodono, aplikasi ini memungkinkan warga mengirim berkas ke kecamatan lewat aplikasi. Jika berkas sudah lengkap usai dicek petugas, akan dikirim ke pimpinan kecamatan untuk dibubuhi stempel serta tanda tangan elektronik.
“Sekarang setiap orang mengurus izin bisa selesai dalam tujuh menit. Dulu, sampai berhari-hari, bermingguminggu, dan sekarang tak sampai satu jam,” katanya.












