“Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Singapura, ternyata Larva ini memiliki kandungan protein yang cukup tinggi,” tuturnya.
Untuk larva yang telah menjadi lalat, kata Warsito, mampu menghasilkan 300 hingga 400 telur. Sementara dari kotoran larva yang telah menjadi residu, kemudian dimanfaatkan sebagai kompos organik.
“Jadi kita menggunakan teknologi ini dua langkah yang kita lalui. Untuk larva dewasanya untuk makan ternak, ikan juga bisa. Terus untuk kotorannya (residu) kita gunakan untuk kompos,” jelasnya.
Menurut Warsito, selama ini sampah yang ada di Surabaya cenderung kebanyakan limbah bekas rumah tangga. Teknik ini bisa diterapkan untuk mengurangi limbah rumah tangga yang ada di masyarakat. Saat ini, teknologi ini telah diuji cobakan di dua RT Kelurahan Jambangan Surabaya.
“Kemarin saja kita uji cobakan pada dua RT itu, mampu mengurangi sampah bekas makanan sebanyak 2,5 ton dalam satu bulan,” katanya.



