“Tidak perlu menggunakan kaca mata seperti saat gerhana matahari,” ucapnya.
Dengan demikian, ia berharap, masyarakat di Indonesia, terutama di Surabaya tidak melewatkan fenomena alam langka ini.
Menurut Bintoro, meskipun Surabaya tidak termasuk dalam daftar 20 titik pantau yang diumumkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca di Surabaya saat ini cukup mendukung untuk melakukan pengamatan sendiri.
Didukung peralatan yang tersedia, Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam Departemen Fisika ITS juga akan melakukan pengamatan di lantai empat gedung F Departemen Fisika ITS.
Ia menilai, alat yang dimiliki laboratoriumnya sudah cukup mumpuni untuk menghasilkan dokumentasi terbaik.












