Surabaya, sebagai kota dengan jumlah penduduk sebanyak 2.960.129 jiwa, tentu berpeluang menjadi titik berkumpulnya beragam kebudayaan yang berbeda-beda dari berbagai daerah. Hal ini mengilhami lima mahasiswa tersebut untuk merealisasikan ide AKU SUROBOYO!. Dengan menggandeng para pejuang veteran Surabaya dan Komunitas Benang Jarum Surabaya (etnografis), kegiatan ini difokuskan pada perkumpulan aktivis di SMA Negeri 6 Surabaya sebagai mitra inisiasi gerakan.
“Kami memilih SMA Negeri 6 Surabaya karena mereka merupakan sekolah lawas dan kawasan cagar budaya,” ungkap mahaiswa yang akan menginjak tahun keempatnya tersebut. Tak hanya itu, melalui hasil penilaian kualitatif sederhana yang telah dilakukan, sebanyak hampir dua per tiga siswa-siswi SMA Negeri 6 Surabaya mengalami akulturasi.
Berbasis metode kepemanduan, pelaksanaan program AKU SUROBOYO! memiliki empat hierarki outcome dalam mengukur kepedulian siswa dan siswi terhadap budaya lokal, yakni mulai dari tahu, paham, peduli, dan berkelanjutan.
“Di akhir kegiatan, kami secara bersama- sama akan membuat pagelaran karya seni bertajuk Pemuda Berkarya yang bisa ditonton oleh umum untuk menggairahkan kembali animo budaya surabaya,” tutur pria kelahiran Sidoarjo ini. Medianya, lanjut Prima, yaitu melalui teater boneka dengan cerita perjuangan yang dijelaskan oleh veteran dan disesuaikan dengan minat ekstra kulikuler masing-masing siswa.



