Keempat, melibatkan generasi muda sebagai penjaga persatuan, termasuk di ruang digital. Mereka perlu memiliki kemampuan memilah informasi, mengenali berita bohong, menolak ujaran kebencian, dan tidak mudah terprovokasi isu identitas.
“Karena persaudaraan hari ini tidak hanya diuji di ruang pertemuan warga, tetapi juga di layar telepon genggam,” sebutnya.
Kelima, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya perlu berperan sebagai fasilitator sekaligus penggerak. Pelaksanaan Kampung Pancasila harus melibatkan kelurahan, kecamatan, sekolah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, hingga komunitas warga.
“Keberhasilan Kampung Pancasila harus diukur melalui partisipasi lintas kelompok, meningkatnya kepercayaan sosial, kepedulian terhadap warga rentan, serta kemampuan masyarakat menyelesaikan persoalan secara damai,” paparnya.
Isa menilai penguatan kerukunan semakin penting menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Kampung Pancasila harus menjadi sistem sosial yang bekerja secara berkelanjutan, bukan baru bergerak ketika muncul ketegangan di masyarakat.



