Meski demikian, ia menekankan bahwa pembatasan kendaraan harus diimbangi dengan kebijakan yang bersifat menarik masyarakat untuk beralih moda.
Pendekatan inilah yang disebut sebagai pull strategy atau carrot policy.
Artinya, ketika kendaraan pribadi mulai dibatasi, pemerintah harus memastikan masyarakat memiliki pilihan transportasi lain yang layak.
Erli menyebut transportasi publik harus menjadi salah satu alternatif utama.
Angkutan umum tidak hanya perlu tersedia, tetapi juga harus memadai, terjangkau, mudah digunakan, dan memberikan kenyamanan dalam perjalanan.
“Namun harus tetap diseimbangkan dengan pendekatan berbasis ‘pull strategy’ atau ‘carrot policy’ yang mendorong alternatif mobilitas dengan transportasi publik maupun mobilitas aktif (berjalan kaki dan bersepeda) adalah pilihan yang menarik,” ujarnya.
Menurutnya, keseimbangan antara pembatasan dan penyediaan alternatif menjadi kunci.
Jangan sampai masyarakat diminta meninggalkan kendaraan pribadi, tetapi tidak diberikan pilihan perjalanan yang memadai.
Selain transportasi publik, pembenahan fasilitas pejalan kaki juga menjadi bagian penting.
Infrastruktur pedestrian harus aman, nyaman, dan memiliki konektivitas yang berkesinambungan agar berjalan kaki benar-benar menjadi pilihan mobilitas.







