Ia turut berperan dalam mempertahankan keberadaan Republik Indonesia di Jawa Timur ketika Belanda kembali melancarkan agresi militernya.
Karena itu, ketika sosok Sungkono kembali diangkat dalam Parade Surabaya Juang, yang dihidupkan sebenarnya bukan sekadar sosok seorang tentara.
Ada nilai keberanian, kepemimpinan, persatuan, dan keberanian mengambil sikap yang ingin diwariskan kepada generasi hari ini.
Pemkot Surabaya melalui Parade Surabaya Juang 2026 memang ingin membawa sejarah lebih dekat dengan masyarakat.
Sekitar 2.150 peserta dari berbagai unsur dilibatkan, mulai dari veteran, TNI-Polri, Paskibraka, komunitas sejarah, organisasi kepemudaan hingga masyarakat.
Pesannya pun dibuat relevan dengan kehidupan masa kini.
Jika dahulu keberanian Sungkono dan para pejuang diwujudkan dengan mempertahankan kemerdekaan, generasi sekarang dapat meneruskan semangat tersebut melalui pendidikan, karya, prestasi, menjaga persaudaraan dan memberi kontribusi bagi lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, sejarah Kolonel Sungkono mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu berarti tidak memiliki rasa takut.
Keberanian justru terlihat ketika seseorang tetap memilih berdiri dan menjalankan tanggung jawab ketika keadaan tidak mudah.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa puluhan tahun setelah Pertempuran Surabaya, namanya masih terus diingat.
Di tengah Parade Surabaya Juang 2026, sosok Sungkono kembali hadir untuk mengingatkan bahwa Kisah Soegiharto yang merupakan pemain Persebaya di era 1930an bukan hanya cerita masa lalu.











