Kemampuan memeriksa informasi dan memperkuat pengetahuan menjadi bekal penting bagi aktivis untuk mempertahankan sikap kritis sekaligus menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
“Kuncinya literasi digital harus ditingkatkan. Kalau kemudian aktivis pemuda-pemudi itu sudah enggan membaca buku, maka suramlah masa depan bangsa,” katanya.
Ia berharap forum kepemudaan seperti Kopi Cangkruk dapat menjadi ruang diskusi untuk membahas persoalan bangsa sekaligus menumbuhkan kesadaran politik di kalangan mahasiswa.
Ia menilai suara anak muda harus didengar, sementara kritik dan gagasan mereka perlu diarahkan menjadi kontribusi nyata.
Baginya, semangat Sumpah Pemuda tidak berhenti pada persatuan yang diikrarkan pada 1928.
Semangat tersebut harus hidup dalam keberanian generasi muda memasuki ruang demokrasi, mengawal kebijakan, menjaga kepekaan sosial, dan ikut memperbaiki politik.
“Sebab, masa depan bangsa bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar potensi generasi mudanya, tetapi juga oleh keberanian mereka mengambil peran dalam menentukan arah perubahan,” pungkasnya. formal, mantan aktivis ini mengingatkan aktivis mahasiswa dan organisasi kepemudaan agar tidak kehilangan kepekaan sosial. Menurut dia, gerakan pemuda memiliki makna ketika mampu mengenali persoalan di sekitarnya dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.”
“Jangan kehilangan kepekaan sosial untuk terus mengadvokasi kepentingan publik. Kalau kemudian generasi muda yang merupakan generasi pelopor itu sudah acuh tak acuh terhadap kondisi lingkungan sekitarnya, maka gerakan kepeloporan pemuda akan hilang di masa-masa yang akan datang,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya literasi digital agar generasi muda tidak mudah terpengaruh distorsi informasi.
Kemampuan memeriksa informasi dan memperkuat pengetahuan menjadi bekal penting bagi aktivis untuk mempertahankan sikap kritis sekaligus menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
“Kuncinya literasi digital harus ditingkatkan. Kalau kemudian aktivis pemuda-pemudi itu sudah enggan membaca buku, maka suramlah masa depan bangsa,” katanya.
Ia berharap forum kepemudaan seperti Kopi Cangkruk ini dapat menjadi ruang diskusi untuk membahas persoalan bangsa sekaligus menumbuhkan kesadaran politik di kalangan mahasiswa.
Ia menilai suara anak muda harus didengar, sementara kritik dan gagasan mereka perlu diarahkan menjadi kontribusi nyata.
Baginya, semangat Sumpah Pemuda tidak berhenti pada persatuan yang diikrarkan pada 1928.
Semangat tersebut harus hidup dalam keberanian generasi muda memasuki ruang demokrasi, mengawal kebijakan, menjaga kepekaan sosial, dan ikut memperbaiki politik.
“Sebab, masa depan bangsa bukan hanya ditentukan oleh seberapa besar potensi generasi mudanya, tetapi juga oleh keberanian mereka mengambil peran dalam menentukan arah perubahan,” pungkasnya. (*)




