Mas Toni juga mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai hanya dengan mengandalkan besarnya jumlah penduduk usia produktif.
Bonus demografi harus diimbangi dengan persiapan sumber daya manusia, terutama melalui pembenahan pendidikan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Menurut dia, tanpa persiapan yang matang, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban bagi bangsa.
“Jangan sampai bonus demografi itu hanya dimaknai bahwa jumlah anak muda jauh lebih banyak dibandingkan jumlah generasi senior. Artinya, bonus demografi itu bisa jadi ledakan ketidakberhasilan Indonesia menyongsong 2045 kalau tidak kita persiapkan dengan baik,” tegasnya.
Ia menilai pendidikan menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas generasi muda.
Sistem pendidikan perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, perubahan kebutuhan dunia kerja, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan masa depan.
“Tidak akan maju perjalanan sebuah bangsa kalau sistem pendidikannya tidak sesuai dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Ia kemudian mencontohkan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang menuntut perubahan cara belajar dan berpikir.
Menurut dia, sistem pendidikan perlu bergerak mengikuti perubahan tersebut, bukan bertahan pada pola pembelajaran yang tidak lagi memadai.
“Sekarang sudah era AI, ternyata sistem pendidikan kita masih ngajari tentang matematika 2+2 pakai kalkulator,” katanya.
Ia menegaskan, menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan kesediaan untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan dan memahami perubahan yang berlangsung di masyarakat.
“Karena saya termasuk orang yang percaya bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri,” tuturnya.
Selain mendorong keterlibatan dalam politik formal, mantan aktivis ini mengingatkan aktivis mahasiswa dan organisasi kepemudaan agar tidak kehilangan kepekaan sosial.
Menurut dia, gerakan pemuda memiliki makna ketika mampu mengenali persoalan di sekitarnya dan memperjuangkan kepentingan masyarakat.
“Jangan kehilangan kepekaan sosial untuk terus mengadvokasi kepentingan publik. Kalau kemudian generasi muda yang merupakan generasi pelopor itu sudah acuh tak acuh terhadap kondisi lingkungan sekitarnya, maka gerakan kepeloporan pemuda akan hilang di masa-masa yang akan datang,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya literasi digital agar generasi muda tidak mudah terpengaruh distorsi informasi.




