Pandangan tersebut menempatkan pembangunan pemuda sebagai pekerjaan lintas sektor.
Pendidikan tidak bisa berjalan sendiri tanpa memperhatikan perubahan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
Demikian pula penciptaan lapangan kerja perlu dibarengi peningkatan keterampilan dan kesempatan bagi anak muda untuk mengembangkan gagasan.
Di sektor pendidikan, Cahyo menekankan pentingnya memperkuat akses dan kualitas pembelajaran agar lebih relevan dengan kebutuhan masa depan.
Ia menyoroti revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, pendidikan vokasi, sebagai hal yang perlu terhubung dalam menyiapkan generasi muda.
“Pertama, misalkan bagaimana kita memperkuat akses dan kualitas pendidikan yang inklusif, relevan dengan kebutuhan masa depan. Ini penting,” katanya.
Menurut dia, pembenahan pendidikan perlu memastikan siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga memiliki keterampilan yang membantu mereka beradaptasi dengan perkembangan dunia usaha dan industri.
“Bagaimana pendidikan kita, misalkan hari ini lagi marak revitalisasi sekolah yang digalakkan oleh Presiden, ini dikaitkan dengan sistem pembelajaran digitalisasi juga peningkatan kualitas pendidikan vokasi. Ini penting agar generasi muda kita, siswa atau murid-murid kita, mampu adaptif dengan kebutuhan dunia usaha maupun industri yang ada saat ini,” ujarnya.
Bagi Cahyo, pendidikan yang relevan menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan potensi anak muda dengan peluang yang tersedia.
Dengan demikian, lulusan sekolah tidak hanya dihadapkan pada persaingan kerja, tetapi juga dibekali kemampuan untuk membaca perubahan dan mengembangkan keahlian.
Selain pendidikan, kemandirian ekonomi menjadi perhatian Cahyo.
Menurut dia, tantangan pembangunan bukan hanya membuka lapangan pekerjaan baru dan berkualitas, melainkan juga menumbuhkan keberanian anak muda untuk membangun usaha sendiri.
“Kedua, tentu kalau kita berbicara dari sektor ekonomi atau kesejahteraan pemuda, tidak hanya kita punya PR untuk membuka lapangan pekerjaan yang baru dan berkualitas, tapi kita juga harus mendorong lahirnya entrepreneur muda atau memperkuat kewirausahaan, ekonomi kreatif, dan kemandirian ekonomi pemuda,” jelasnya.
Ia menilai Jawa Timur memiliki sejumlah program yang dapat dioptimalkan untuk mendukung lahirnya wirausaha muda.
Di antaranya Youth Entrepreneurship Center dan Millennial Job Center.
Program-program tersebut, menurut Cahyo, dapat menjadi instrumen untuk membantu generasi muda mengembangkan potensi dan menciptakan peluang ekonomi apabila dijalankan secara optimal.
“Kalau dioptimalkan, saya rasa ini bisa mendorong munculnya pengusaha-pengusaha baru atau youth entrepreneur baru yang ada di Kota Surabaya. Tentu ini bisa menjadi penyumbang peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan generasi muda kita,” katanya.








