Menurutnya, perjalanan Bahlil dapat menjadi bukti bahwa seseorang tetap bisa memiliki masa depan besar meski tidak dilahirkan dari keluarga berada.
“Jadi kepada anak-anak supir seluruh Jawa Timur, jangan berkecil hati. Artinya, Pak Bahlil saja yang pernah menjadi supir angkot, hari ini bisa dipercaya presiden sebagai Menko Hilirisasi,” tegasnya.
Dari Maluku hingga Papua, perjalanan Bahlil kemudian berlanjut ke panggung nasional.
Toni menyebut perjalanan tersebut sebagai gambaran tentang bagaimana seseorang dapat mengubah keterbatasan menjadi energi untuk terus bergerak maju.
“Karena figur Pak Bahlil itu merupakan rule model bagaimana seseorang berhasil dalam menggapai cita-cita,” kata Arif.
Bahlil lahir di Maluku dan besar di Papua. Dari kawasan Timur Indonesia itu, ia kemudian menempuh perjalanan panjang hingga dipercaya memimpin Partai Golkar dan menjadi bagian dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Lahir di Maluku, besar di Papua, kemudian alhamdulillah hari ini menjadi Ketua Umum partai paling tua di Indonesia, menjadi pembantu presiden yang memang menjadi jangkar presiden dalam pengelolaan pemerintahan,” ujar Wakil Ketua DPRD Surabaya.
Menurutnya, perjalanan tersebut membuat kisah Bahlil relevan untuk menjadi sumber motivasi bagi anak-anak muda yang merasa masa depannya terbatas karena kondisi ekonomi keluarga.
Ia berharap mereka melihat bahwa keberhasilan tidak selalu dimulai dari fasilitas yang lengkap.
Pesan tersebut, kata Toni, juga menjadi salah satu semangat yang ingin dibangun melalui serial Melangkah Dari Timur.
Film tersebut dinilai dapat menjadi medium untuk memperlihatkan bahwa anak bangsa yang tidak lahir dari keluarga berada pun memiliki kesempatan untuk membangun masa depan.
“Nah, mungkin salah satunya film itu, itu bagian dari upaya mendorong semangat atau rasa optimisme seluruh anak bangsa yang kebetulan tidak dilahirkan dari orang yang berpunya agar tidak berkecil hati dalam menyongsong hidup atau masa depan yang lebih baik di masa yang akan datang,” ungkapnya.
Kisah Bahlil juga membawa pesan lain tentang bagaimana seseorang seharusnya memandang pencapaian.
Fatoni menyebut Bahlil kerap menyampaikan pentingnya memahami kapasitas diri dan tidak memaksakan ambisi di luar kemampuan.











