“Batik ini betul-betul citra budayanya Indonesia. Jadi jangan sampai anak-anak muda itu berasumsi bahwa pakai baju batik kayak orang tua, sekarang kan anak-anak muda malas berfashion batik. Nah, jangan sampai seperti itu. Karena rupanya dipoles sedikit aja batik itu bisa jadi cocok untuk anak muda,” paparnya.
Menurut Vanda, pemerintah dan sekolah juga dapat mengambil peran agar batik semakin dekat dengan generasi muda.
Ia mengusulkan adanya kegiatan khusus untuk pelajar dengan konsep fashion yang lebih kekinian.
“Sekolah-sekolah atau mungkin dari pemerintah sendiri ya, yang dengan membuat acara yang memang dikhususkan untuk anak muda. Jadi mungkin ada nih acara yang khusus anak muda dan fashion-nya itu betul-betul yang diambil dari trend kekinian,” jelas Vanda.
Ia meyakini desain batik yang lebih modern, termasuk penggunaan aksesoris dan konsep busana yang eye-catching, dapat mengubah pandangan anak muda terhadap batik.
“Jadi fashion show itu jangan sampai hanya yang feminin, yang bergaun-gaun. Nah, itu nanti mungkin dari desainernya yang betul-betul eye-catching untuk anak muda,” papar Vanda.
Vanda berharap upaya mengenalkan batik kepada generasi muda dilakukan secara berkelanjutan, khususnya melalui lingkungan sekolah hingga perguruan tinggi.





