“Saya memang mulai 2019 memperagakan busana, tapi kan basic memang bukan model, saya hanya mewakili Jalasenastri, tapi baru sekali yang untuk Hari Batik Nasional dan di Surabaya itu baru sekali ini. Awal ya tantangannya gimana sih muter selendang biar enggak kepelintir, jalan bisa gini, eh pose gini,” tutur Vanda pada Minggu, 4 Oktober 2026.
Menurutnya, batik juga harus terus dilestarikan dan dikenalkan kepada generasi muda agar mereka tidak hanya mengetahui batik sebagai warisan budaya Indonesia, tetapi juga tumbuh rasa bangga untuk mengenakan dan menjadikannya bagian dari gaya mereka sehari-hari.
Menurut Vanda, sentuhan desain modern mampu mengubah kesan batik menjadi lebih mewah hingga cocok dikenakan generasi muda.
Namun, kesan tersebut berubah ketika batik dipadukan dengan ornamen dan desain yang lebih modern dan didesain oleh orang yang mengerti fashion saat ini.
“Saya aja betul-betul surprise saat pakai baju desainer ini. Jadi betul-betul langsung berubah lah. Istilahnya batik itu cenderung yang biasanya klasik, tapi bisa menjadi busana modern, bisa jadi betul-betul emang formal, bisa jadi gaun pun bisa,” papar Ibu dua anak ini.
Vanda menilai perubahan desain tersebut penting untuk menghapus anggapan bahwa batik hanya cocok untuk orang yang lebih tua.
Ia khawatir persepsi tersebut membuat generasi muda justru enggan mengenakan batik.





