“Dari tahun 2025. Yang tahun ini kami belum dapat. Tiga dari lima itu jadi entrepreneur,” ujar Prof Wirawan.
Di sisi lain, UC menyebut lulusan yang belum langsung bekerja tidak selalu berarti menganggur.
Sebagian berada dalam masa tunggu, misalnya karena memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.
UC juga berupaya mendekatkan proses pembelajaran dengan kebutuhan industri.
Praktisi dan CEO disebut dilibatkan dalam pembelajaran, sementara mahasiswa diarahkan mengerjakan proyek yang berkaitan dengan persoalan nyata.
Konsep entrepreneurship tersebut juga diterapkan dalam bidang yang tidak identik dengan bisnis, termasuk kedokteran.
Namun, UC menekankan bahwa entrepreneurship di bidang tersebut diarahkan sebagai inovasi sosial, bukan sekadar mengejar keuntungan.
“Yang kita maksud, kedokteran, baik ini kedokteran umum, kedokteran gigi, itu adalah inovasi sosial,” kata Prof Wirawan.
Dengan pendekatan tersebut, UC ingin lulusan memiliki lebih banyak pilihan setelah menyelesaikan pendidikan: memasuki dunia profesional, melanjutkan studi, maupun membangun usaha sendiri.
Bukan hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga memiliki kemampuan menciptakan peluang bagi dirinya dan orang lain. (*)






