Untuk mengatasi tantangan alam tersebut, Ony mendorong lahirnya kebijakan terintegrasi yang mencakup pembangunan infrastruktur air, konservasi lingkungan, hingga penyesuaian di sektor pertanian. Menurutnya, fokus utama harus diarahkan pada bagaimana menampung, menyimpan, dan mendistribusikan air agar tetap tersedia saat kemarau.
Guna mewujudkan ketahanan air, ia merinci sejumlah langkah strategis yang perlu diambil pemerintah. Pembangunan embung dan waduk mikro: Memperbanyak penampung air di wilayah rawan kekeringan untuk menangkap air hujan.
Penguatan pipanisasi lintas wilayah: Menghubungkan sumber air yang stabil dengan desa-desa yang kesulitan air bersih. Sumur dalam berbasis peta geologi: Melakukan pemetaan geolistrik terlebih dahulu agar pengeboran tepat sasaran pada titik akuifer yang memadai. Pemberdayaan masyarakat: Melibatkan warga dalam pengelolaan dan perawatan sarana air agar berkelanjutan.
Selain infrastruktur teknis, anggota Komisi B DPRD Jatim ini mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian kawasan resapan air. Ia meminta pengawasan terhadap aktivitas pertambangan di kawasan karst diperketat, serta penghijauan di area hulu, sekitar mata air, dan sendang terus digencarkan. Pembangunan sumur resapan di pemukiman warga juga perlu diperluas.
Di sektor pertanian, Ony mendorong penerapan pola tanam yang adaptif iklim, khususnya bagi petani di lahan tadah hujan. Petani perlu didukung dengan penyediaan benih berumur pendek, penyesuaian kalender tanam, fasilitas pompanisasi, hingga sistem irigasi efisien agar terhindar dari kerugian akibat perubahan musim.



