Salah satu bentuknya adalah keberadaan donasi atau dukungan warga yang mampu kepada masyarakat yang membutuhkan. Di saat bersamaan, geliat UMKM juga menjadi bagian dari penilaian.
“Artinya, di level RT dan RW bagaimana warga yang mampu bisa membantu warga yang kurang mampu, itu filosofinya, sampai pelaku UMKM dan lain sebagainya,” terangnya.
Dengan demikian, kampung yang memiliki UMKM aktif, kepedulian sosial tinggi, serta mampu menggerakkan potensi ekonomi warganya memiliki nilai lebih dalam kompetisi ini.
Keamanan dan Kepedulian Sosial Ikut Dinilai
Bukan hanya soal kebersihan dan ekonomi, kondisi keamanan lingkungan juga menjadi salah satu indikator. Pelaksanaan jadwal keamanan, penggunaan CCTV, hingga upaya menciptakan kampung bebas pencurian kendaraan bermotor menjadi bagian dari penilaian pilar kemasyarakatan.
Sementara itu, pilar sosial budaya menyentuh aspek yang lebih luas, mulai dari kesehatan hingga pendidikan.
“Di pilar sosial budaya, ini terkait dengan kesehatan, terkait juga dengan pendidikan dan sampai (perhatian) pada anak putus sekolah dan lain sebagainya,” imbuh Irvan.
Artinya, kampung yang ingin menjadi pemenang harus menunjukkan bahwa masyarakatnya tidak hanya peduli terhadap kondisi fisik lingkungan, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap warga di sekitarnya.
Jangan Abaikan Aplikasi Sayang Warga
Ada satu hal yang tak kalah penting dan berpotensi menentukan langkah RW dalam kompetisi, yakni pengisian data pada aplikasi Sayang Warga.
Dalam tahap seleksi administrasi, data self assessment yang diisi RT dan RW setiap bulan akan menjadi salah satu dasar penilaian.
“Nah, seleksi administrasi ini salah satunya terkait dengan isian pada aplikasi Sayang Warga. Jadi, Pak RT dan Pak RW kan setiap bulan mengisi yang namanya self assessment,” ujarnya.
Karena itu, Irvan meminta RT dan RW tidak menganggap pengisian aplikasi tersebut sebagai formalitas.













