Oleh sebab itu, kolaborasi dengan investor dinilai menjadi langkah strategis agar pemerataan layanan air bersih bisa lebih cepat dirasakan masyarakat.
“Makanya kalau ingin wilayah Surabaya keluar air semua, ketika sampean (anda) tidak bekerja sama dengan pihak ketiga, maka itu enggak mungkin. Kalau hanya bikin proyek sendiri (tanpa investor) di wilayah (Surabaya) utara enggak keluar-keluar airnya,” tegasnya.
Eri menjelaskan, melalui skema kerja sama investasi, pembangunan infrastruktur dapat dilakukan lebih awal, sementara perusahaan dapat menyelesaikan pembayaran secara bertahap setelah jaringan mulai beroperasi.
“Tapi kalau melibatkan pihak ketiga, ada investor yang masuk, setelah itu air jalan, baru kita cicil, itu bagus,” ujarnya.
Meski membuka peluang investasi, Eri mengingatkan agar jajaran direksi tetap cermat dalam menghitung kemampuan keuangan perusahaan.
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak boleh mengganggu pelayanan maupun membebani perusahaan dalam jangka panjang.
“Terkait dengan investor jangan pernah berhitung dengan dividen. Jadi dividennya lihat, apakah kita itu bisa dengan segitu atau dividennya itu kebanyakan untuk membayar cicilan. Jadi ayo dihitung, jangan keluar kantong kanan, keluar kantong kiri,” pesannya.













