Menurutnya, perkembangan teknologi membuat anak-anak sangat mudah mengakses gim kapan saja dan di mana saja.
Karena itu, pendekatan yang tepat bukanlah melarang, melainkan mengatur dan membina aktivitas tersebut.
“Mustahil hari ini kita menolak perkembangan gim. Yang seharusnya dilakukan adalah merangkul dan mengakomodasi agar menjadi wadah prestasi, dengan waktu bermain yang tepat dan bermanfaat bagi siswa,” katanya.
Achmad menjelaskan, melalui ekstrakurikuler di sekolah, orang tua maupun guru dapat mengawasi durasi bermain siswa sehingga aktivitas tersebut tidak dilakukan secara berlebihan.
“Dengan adanya ekskul, orang tua dapat membatasi waktu bermain esport di sekolah maupun saat libur dengan durasi yang telah ditetapkan. Guru pembina yang berasal dari atlet maupun anggota ESI juga kami bekali pemahaman agar siswa bermain secara terukur dan tidak lupa waktu,” jelasnya.












