Ia menjelaskan, karakteristik rob di Surabaya umumnya berlangsung dalam waktu relatif singkat, berkisar satu hingga dua jam.
Meski demikian, Pemkot tetap memilih melakukan tindakan cepat agar air tidak terus menggenang dan menghambat aktivitas sekolah.
“Rob memang akan surut dengan sendirinya, tetapi kami tidak menunggu. Begitu air mulai masuk, langsung kami sedot dan buang menggunakan armada tangki. Tujuannya agar genangan tidak sempat meninggi dan proses belajar mengajar tetap berjalan,” ujarnya.
Febri menjelaskan, di sekolah negeri kawasan Romokalisari, genangan hanya terjadi di halaman sekolah dan tidak memasuki ruang kelas.
Sementara di sekolah swasta kawasan Kalianak, tinggi air diperkirakan mencapai mata kaki dan berhasil surut dalam waktu sekitar satu hingga satu setengah jam setelah dilakukan penyedotan.
“Karena itu, sejak awal air yang masuk langsung disedot dan dibuang menggunakan armada agar ketinggiannya tetap terkendali hingga air laut kembali surut,” jelasnya.
Ia menegaskan, tidak ada siswa yang dipulangkan akibat rob sebagaimana informasi yang sempat beredar. Seluruh kegiatan MPLS tetap berlangsung sesuai jadwal karena kondisi genangan dapat segera ditangani.













