Surabaya. Cakrawalawanews.co – Dalam momentum Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 pada 12 Juli, tokoh gerakan koperasi nasional, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., mengingatkan agar pembangunan koperasi di Indonesia tidak terjebak pada mengejar kuantitas semata.
Pernyataan itu disampaikan di tengah masifnya pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Pemerintah mencatat lebih dari 80 ribu KDKMP telah berbadan hukum, sementara ribuan lainnya mulai memasuki tahap operasional sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi desa dan ketahanan pangan nasional.
Namun, bagi Mantan Ketua Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) itu, banyaknya koperasi yang berdiri belum tentu menjadi jaminan lahirnya gerakan koperasi yang sehat.
“Persoalan mendasar koperasi hari ini bukan soal jumlah, tetapi bagaimana koperasi itu lahir. Apakah lahir dari kebutuhan anggotanya atau hanya karena program,” ungkap Untari, Minggu (12/07/2026).
Menurut perempuan yang juga Ketua Komisi E DPRD Jatim tersebut, hakikat koperasi sejak awal dibangun di atas filosofi self help through mutual help, yakni menolong diri sendiri melalui kerja sama. Filosofi itu diwujudkan melalui prinsip dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota.
“Itu yang menjadi fondasi utama. Orang-orang berkumpul karena memiliki kebutuhan yang sama, kemudian mendirikan perusahaan yang mereka miliki, kelola, dan awasi bersama,” katanya.
Karena tumbuh dari kebutuhan bersama, Untari menilai koperasi memiliki daya tahan yang jauh lebih kuat. Ia mencontohkan Kospin Jasa, Koperasi Pondok Pesantren Sidogiri, hingga Koperasi Setia Budi Wanita (SBW).



