Cakrawala BirokrasiCakrawala JatimCakrawala NewsCakrawala SurabayaHeadline

Mati Lampu Bikin Was-was, Cak Yebe Minta PLN Jangan Padamkan Listrik di Jam Sibuk

×

Mati Lampu Bikin Was-was, Cak Yebe Minta PLN Jangan Padamkan Listrik di Jam Sibuk

Sebarkan artikel ini
Ketua Komisi A Yona Bagus Widyatmoko. Foto: (Tim Cak Yebe)
Ketua Komisi A Yona Bagus Widyatmoko. Foto: (Tim Cak Yebe)
Surabaya, CakrawalaNews.co | Pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Jawa akibat gangguan teknis di PLTU Paiton memicu reaksi keras dari parlemen Surabaya. 
Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko (Cak Yebe), meminta PT PLN (Persero) lebih bijak dalam mengatur jadwal pemadaman.
 
Cak Yebe menegaskan, PLN wajib menghindari jam-jam sibuk (prime time) agar tidak melumpuhkan pelayanan publik dan aktivitas ekonomi warga.
 
Sorotan utama Komisi A tertuju pada fasilitas publik yang vital. Menurut Cak Yebe, titik-titik krusial seperti kantor pelayanan, fasilitas umum, hingga lampu lalu lintas (traffic light) harus bebas dari pemadaman.
 
“Kalau sampai traffic light mati karena pemadaman listrik, tentu akan menimbulkan kekacauan lalu lintas dan berpotensi menyebabkan kecelakaan. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegasnya saat ditemui di Ruang Komisi A, Senin (22/6/2026).
 
Ia juga mengingatkan PLN agar durasi pemadaman tidak ngaret, mengingat tidak semua pelaku usaha atau instansi memiliki genset cadangan.
 
Selain urusan pelayanan, Cak Yebe yang dikenal merakyat ini juga minta PLN “pengertian” terhadap kebutuhan hiburan warga. Saat ini, euforia ajang olahraga dunia sedang tinggi-tingginya, dan momen nonton bareng (nobar) di warung kopi menjadi ruang interaksi sosial yang penting.
 
Fungsi Sosial Nobar menjadi wadah diskusi santai warga, Peredam Suhu Politik dengan menciptakan suasana kondusif dan cair di tengah dinamika politik yang berkembang.
 
“Masyarakat juga membutuhkan hiburan dan ruang berkumpul yang positif. Jangan sampai pas lagi seru-serunya nobar, malah mati lampu,” imbuhnya.
 
Bukan rahasia lagi, mati lampu dalam durasi lama adalah momok bagi pelaku UMKM. Cak Yebe yang juga seorang pelaku usaha memahami betul beban tambahan yang harus dipikul warga jika listrik padam berlarut-larut. 
Pelaku usaha terpaksa keluar modal ekstra untuk menyewa genset hingga menyelamatkan bahan baku di freezer.
 
Dalam kesempatan yang sama, Cak Yebe juga membagikan pandangannya terkait dua isu hangat lainnya di Kota Pahlawan:
Masyarakat diminta tidak panic buying. Pemerintah pusat sudah berkomitmen tidak menaikkan harga BBM Bersubsidi (Biosolar tetap Rp6.800/liter dan Pertalite Rp10.000/liter).
 
Kelangkaan biasanya terjadi karena warga kelas menengah ke atas ikut mengantre BBM bersubsidi. Cak Yebe mengimbau warga yang mampu untuk tetap menggunakan BBM non-subsidi.
 
Kenaikan harga BBM non-subsidi sebenarnya bisa jadi momentum bagus agar warga pindah ke transportasi publik. 
 
Namun, Cak Yebe memberi catatan tebal untuk Pemkot Surabaya dengan membenahi dulu kenyamanan dan keamanannya!
 
Layanan feeder Wira-Wiri sempat disorot karena perilaku oknum pengemudi yang ugal-ugalan.
 
“Ketika masyarakat mulai memarkir mobil pribadinya dan beralih ke transportasi publik, pemerintah harus menjamin rasa aman. Nyawa manusia tidak bisa ditukar dengan rupiah,” cetus Cak Yebe.
 
Jika fasilitasnya sudah bintang lima, Cak Yebe mengaku siap pasang badan jadi contoh untuk bepergian lewat transportasi umum. Ia juga mengusulkan agar program jaman Wali Kota Risma, Jumat Bersepeda , dihidupkan lagi demi hemat energi dan hidup sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *