EditorialIndeksPilihan Redaksi

Surabaya, Teater Politik dan Penonton yang Gelisah

×

Surabaya, Teater Politik dan Penonton yang Gelisah

Sebarkan artikel ini
Balai Kota Surabaya- . foto Dokumen
Balai Kota Surabaya- . foto Dokumen

Karena dalam politik, masalah terbesar bukanlah kritik. Kritik justru menunjukkan bahwa publik masih peduli.

Yang lebih berbahaya adalah ketika masyarakat berhenti mengeluh. Ketika warga tidak lagi menandai akun wali kota. Ketika mereka merasa lapor atau tidak lapor hasilnya sama saja. Ketika apatisme mulai menggantikan harapan.

Pada titik itu, seorang aktor politik sesungguhnya sedang kehilangan penontonnya.

Surabaya memiliki tradisi politik yang khas. Warganya tidak pernah menjadi penonton pasif. Mereka selalu terlibat dalam cerita. Mereka mengawasi, mengkritik, dan menuntut. Kadang dengan bahasa yang santun, kadang pula dengan nada yang keras. Tetapi semua itu lahir dari satu hal: kepedulian terhadap kota.

Karena itu, membanjirnya kritik di media sosial hari ini tidak perlu dipahami semata-mata sebagai ancaman politik. Ia bisa menjadi cermin yang menunjukkan suasana hati publik. Sebuah pengingat bahwa kemenangan 81 persen dalam Pilkada bukanlah tiket untuk mendapatkan kepercayaan tanpa batas.

Kepercayaan publik memiliki masa berlaku. Ia harus diperbarui setiap hari melalui kinerja, komunikasi, empati, dan kemampuan mendengar.

Dalam banyak kasus, seorang pemimpin tidak kehilangan panggung karena dikalahkan lawan politiknya. Ia kehilangan panggung karena gagal menjaga hubungan dengan penontonnya sendiri.

Dan di Surabaya, kota yang warganya terbiasa berbicara terus terang kepada kekuasaan, pelajaran itu selalu relevan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *