“Nanti saya minta juga lurah camat ini semuanya ikut pada waktu perhitungan elevasi. Nanti mau menggunakan station, theodolit, atau waterpass, dia harus tahu,” katanya.
Menurutnya, pemahaman tersebut menjadi kunci karena camat dan lurah adalah pemimpin wilayah yang harus mampu melihat persoalan banjir secara menyeluruh. “Dia harus ngerti. Oh, menyelesaikan banjir seperti ini, bukan menyelesaikan banjir dikeruk di sini, tidak. Banjir di sini, penyelesaiannya bisa di hulunya,” jelasnya.
Ke depan, Wali Kota Eri juga berencana melanjutkan peninjauan ke wilayah lain yang juga rawan banjir, seperti Tenggilis Mejoyo dan Medokan Semampir. “InsyaAllah minggu depan saya ke (wilayah) Tenggilis. Kalau ini (saluran Margorejo) kan sudah tiga kecamatan, Jambangan, Gayungan, dan Wonocolo,” imbuhnya.
Ia kembali menegaskan bahwa camat dan lurah harus memahami alur aliran air di wilayah masing-masing. Sebab, kata dia, camat dan lurah memiliki peran vital dalam menyelesaikan persoalan banjir.
“Karena kita itu punya perencanaan yang harus kita sampaikan ke teman-teman semua. Karena buat saya, wali kotanya itu ya camat-camat dan lurah ini,” pungkasnya.












