Ia menjelaskan bahwa teknologi memiliki dua sisi, yakni sebagai sarana edukasi sekaligus potensi ancaman. Oleh karena itu, perempuan—khususnya ibu—berperan sebagai pengarah yang memastikan pemanfaatan teknologi dilakukan secara bijak.
Selain itu, fenomena FOMO dinilai menjadi tekanan tersendiri bagi generasi muda.
Dorongan untuk selalu mengikuti tren berpotensi membuat individu kehilangan jati diri dan tidak fokus pada potensi yang dimiliki.
“Setiap anak memiliki potensi berbeda. Jangan memaksakan diri mengikuti orang lain,” tegasnya.
Rini menilai, penguatan karakter menjadi langkah penting untuk menghadapi tekanan sosial tersebut.
Pendekatan pengasuhan yang mengedepankan komunikasi dua arah dinilai lebih relevan dibanding pola lama yang bersifat satu arah.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kebebasan yang diberikan kepada anak harus tetap disertai dengan kontrol. Pola “tarik ulur” dianggap sebagai strategi efektif dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.
Di sisi lain, isu kesehatan mental perempuan juga menjadi perhatian utama. Tekanan kehidupan modern yang semakin kompleks membuat perempuan perlu memiliki ketahanan mental yang kuat.
Menurutnya, kondisi psikologis seorang ibu sangat memengaruhi kualitas pengasuhan dan stabilitas keluarga secara keseluruhan.
“Ibu adalah penopang keluarga. Jika ibu sehat dan bahagia, maka keluarga juga akan ikut sehat,” ujarnya.












