Sampah yang telah disetor oleh warga tersebut, lanjut dia, kemudian akan dipilah menjadi dua bagian. Yakni sampah kering dan basah. Untuk sampah kering, akan dimasukkan ke dalam Bank Sampah. “Sedangkan sampah basah, kita jadikan sebagai pupuk komposting,” ujarnya.
Dari hasil setoran sampah kering tersebut, Sudarto menjelaskan, selanjutnya oleh bank sampah akan dikonversikan ke dalam bentuk rupiah dan uangnya masuk ke dalam buku kas tabungan masing-masing anggota.
“Ada yang dapat 30 ribu ada yang 70 ribu. Banyaknya rupiah tergantung dari rajinnya warga mengumpulkan sampah. Dan hasilnya, ditabung untuk biaya rekreasi warga,” ujar Sudarto, yang menjabat ketua RT dalam tiga periode ini.
Sudarto menuturkan, hasil tabungan dari bank sampah, dalam setiap bulannya jika diglobalkan bisa mencapai rata-rata Rp 850 ribu. Sedangkan dalam satu tahun, jika dikalikan bisa mencapai Rp 10,2 juta. Menurut dia, dengan adanya program bank sampah tersebut, bisa menjadi solusi alternatif lain dalam mengurangi tumpukan sampah di setiap Tempat Pembuangan Sampah (TPS).
“Dulu sebelum ada bank sampah, pembuangan sampah bisa mencapai satu minggu dua kali. Sedangkan sekarang, satu minggu satu kali dan itupun tidak sampai penuh satu gledek,” jelasnya.



