Saat ditanya alasannya menghafal Al Qur’an, meski tidak bisa melihat, ia menjawab,
“Kalau orang yang bisa melihat cukup bawa satu mushaf kecil, bisa dikantongi. Kalau saya, satu juz satu buku braille tebal. Kalau 30 juz bisa satu becak. Maka saya pikir, lebih baik dimasukkan ke kepala saja supaya ringan dibawa,” ujarnya sederhana.
Harianto menghafal melalui mushaf braille dan murotal yang ia dengarkan berulang-ulang. Ia mengaku tak pernah terpikir mengikuti lomba. Baginya, menghafal Al-Qur’an adalah bentuk syukur dan kebutuhan pribadi.
“Saya hanya ingin dekat dengan Al-Qur’an,” katanya lirih.
Salah satu penguji dari Biro Al-Qur’an BKAP DPW PKS Jatim, Komari, mengaku tak kuasa menahan haru saat menilai bacaan Harianto.
“Bacaan beliau sangat bagus dan hafalannya kuat. Ini pelajaran besar bagi kita semua. Kalau beliau yang memiliki keterbatasan saja bisa menghafal 11 juz, apa alasan kita yang sehat untuk tidak dekat dengan Al-Qur’an?” ujarnya.
Kini Harianto menargetkan menyelesaikan 30 juz. Di sela aktivitasnya mengajar Al-Qur’an di Madiun, ia juga aktif memanfaatkan teknologi berbasis suara untuk terus belajar. (caa)












