Menurutnya, tekanan fiskal akibat berkurangnya dana transfer dari pusat seharusnya menjadi momentum bagi Pemkot untuk lebih berani mengeksplorasi pengelolaan wisata secara profesional, bukan bertahan pada pola birokratis.
“Di tengah efisiensi anggaran, Pemkot harus berani mengubah cara pandang. Wisata mangrove seharusnya bisa menjadi ikon kota sekaligus sumber PAD jika dikelola dengan konsep yang jelas, fasilitas memadai, dan promosi yang terintegrasi,” katanya.
Yona menegaskan DPRD mendorong evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola Kebun Raya Mangrove Surabaya agar kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang konservasi, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi daerah.
“Kita dorong ada evaluasi. Agar kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang konservasi, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi daerah” pungkasnya.












