Lokasi yang tersebar membuat pengunjung bergantung pada kendaraan pribadi atau transportasi daring, ditambah minimnya papan penunjuk arah.
Fasilitas pendukung di dalam kawasan juga dinilai belum berkembang signifikan. Selain toilet umum, musala, dan area parkir, sentra wisata kuliner yang direncanakan belum berfungsi optimal. Sejumlah lapak terlihat kosong tanpa konsep yang jelas, sehingga pengunjung kerap harus membawa bekal sendiri.
Di sisi lain, tantangan konservasi masih membayangi kawasan mangrove Surabaya. Sebagian area mangrove di Pantai Timur Surabaya dilaporkan mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan, sementara tingkat keberhasilan penanaman kembali belum maksimal karena faktor teknis dan persoalan sampah plastik.
Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, menilai kondisi tersebut menunjukkan perlunya keberanian Pemerintah Kota Surabaya untuk melakukan terobosan dalam mengelola aset wisata daerah.
“Potensi wisata mangrove ini besar, tetapi pengelolaannya masih belum maksimal. Dampaknya terhadap PAD juga belum terasa signifikan,” ujar Yona.












