Cakrawalanews.co-Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK), Yuli Farianti, resmi melepas ratusan relawan tenaga kesehatan untuk menangani dampak bencana di Provinsi Aceh.
Para relawan ini merupakan tenaga medis lintas profesi yang akan mengabdikan diri di wilayah terdampak paling parah sebelum nantinya penugasan dilanjutkan ke wilayah Sumatra Barat dan Sumatra Utara. Fokus utama pelepasan kali ini adalah memastikan distribusi layanan kesehatan berjalan adil dan merata sehingga tidak ada daerah yang mengalami kekurangan maupun kelebihan tenaga medis.
Sebanyak 126 relawan diberangkatkan pada tahap ini menuju wilayah dengan akses sulit seperti Bener Meriah, Takengon, Aceh Utara, dan Gayo Lues, yang beberapa di antaranya hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Hingga tanggal 22 Desember 2025, total relawan yang dikerahkan direncanakan mencapai sekitar 600 orang.
Tim ini membawa tenaga ahli yang lengkap, mencakup dokter spesialis mata, bedah, neurologi, anak, hingga psikolog klinis dan psikiater yang secara khusus ditugaskan untuk program trauma healing bagi masyarakat di posko pengungsian.
Langkah koordinasi terpusat ini diambil untuk memperbaiki sistem pengiriman tenaga kesehatan yang pada awal masa bencana masih dilakukan secara mandiri oleh masing-masing rumah sakit. Dengan manajemen yang lebih terintegrasi, relawan akan ditempatkan secara strategis di rumah sakit, puskesmas, dan posko pengungsian sesuai kebutuhan nyata di lapangan.
Para relawan tersebut berasal dari berbagai instansi kesehatan ternama, termasuk RSUP Cipto Mangunkusumo, RSUP Dr. Sardjito, RS Cicendo, serta jaringan rumah sakit swasta seperti Siloam dan Hermina.
Kesiapan para relawan juga didukung oleh persiapan fisik dan mental yang matang sebelum terjun ke lokasi bencana. Salah satu relawan, dr. Chani Sinaro Putra dari RS Cicendo Bandung, menyatakan bahwa timnya telah mempelajari kondisi medan serta potensi masalah medis yang akan dihadapi guna memastikan bantuan yang diberikan dapat maksimal bagi warga terdampak maupun tenaga medis lokal yang sudah bertugas lebih dulu. (Infp)












