“Jawa Timur sebagai kawasan strategis. Dengan populasi penduduk lebih dari 40 juta, dan 70 persen di antaranya di usia produktif, potensi ini harus kita manfaatkan dengan baik, jangan sampai menjadi beban demografi,” sambungnya.
Kunci sukses membangun Jatim, sebut Said, ada di pendidikan yang harus lebih inklusif. “Kita tidak boleh berpuas diri, dengan pencapaian angka partisipasi murni SMA di Jatim yang mencapai 96 persen, sebab lulusan SMA belum memiliki skill profesional,” ujar Said.
Anak anak muda, dari Gen Z dan Gen Alpha, tambah dia, kelak harus bisa terakses dengan pendidikan tinggi, tanpa terbebani uang kuliah yang mahal. Menurutnya, Perjuangan se-Jatim terus mendorong melalui DPRD dan kepala daerah bisa memberikan dukungan uang kuliah agar mereka bisa mengenyam pendidikan tinggi, baik melalui APBD, dan kerjasama dengan badan usaha.
Sejalan dengan hal itu, dari tenaga yang terampil paska perguruan tinggi, PDI Perjuangan Jawa Timur akan menginisiasi terbentuknya Youth Venture Fund (YVF). YVF menargetkan 50.000 startup baru generasi muda hingga 2030 untuk memperluas akses modal tanpa jaminan fisik dan mempercepat kemandirian ekonomi.



