EditorialHeadlineIndeksOpiniPilihan Redaksi

Catatan Redaksi: Makan Gratis dan Logika Kekuasaan

×

Catatan Redaksi: Makan Gratis dan Logika Kekuasaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Ilustrasi

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam perdebatan politik: rakyat mungkin mendengarkan pidato, tetapi mereka merasakan kehidupan melalui isi piring makan mereka.

Karena itu, urusan pangan tidak pernah benar-benar hanya soal makanan. Ia selalu terkait dengan ekonomi, kesejahteraan, bahkan kekuasaan.

Hari-hari ini, perdebatan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin ramai. Ada yang melihatnya sebagai langkah berani untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia Indonesia. Ada pula yang menilainya sebagai program populis dengan biaya sangat besar dan manfaat yang belum sepenuhnya teruji.

Perdebatan itu wajar. Bahkan diperlukan.

Namun di tengah hiruk pikuk pro dan kontra, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: ketika negara memberi makan rakyatnya, apakah tujuannya untuk memberdayakan mereka, atau justru membangun ketergantungan?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sinis. Padahal tidak.

Sejak dahulu, penguasa yang mampu menjaga perut rakyat tetap kenyang hampir selalu memperoleh kepercayaan yang lebih besar. Sebaliknya, ketika harga pangan melonjak dan kebutuhan dasar sulit dipenuhi, legitimasi kekuasaan ikut goyah. Hubungan antara pangan dan kekuasaan setua sejarah peradaban itu sendiri.

Karena itulah muncul ungkapan terkenal dalam ilmu ekonomi: there is no free lunch. Tidak ada makan siang yang benar-benar gratis.

Kalimat itu bukan berarti rakyat tidak boleh menerima bantuan. Bukan pula berarti negara tidak boleh hadir membantu warganya. Maksudnya sederhana: setiap kebijakan memiliki biaya dan konsekuensi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *