EditorialHeadlineIndeksOpiniPilihan Redaksi

Catatan Redaksi: Makan Gratis dan Logika Kekuasaan

×

Catatan Redaksi: Makan Gratis dan Logika Kekuasaan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Ilustrasi

Makanan gratis yang diterima anak-anak sekolah hari ini tetap dibayar oleh uang publik. Oleh pajak yang dikumpulkan negara. Oleh anggaran yang mungkin harus dikurangi dari sektor lain. Atau bahkan oleh generasi mendatang melalui beban fiskal yang diwariskan.

Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah apakah makan gratis itu baik atau buruk.

Pertanyaannya adalah: apa yang didapat bangsa dari biaya yang dikeluarkan?

Jika program tersebut mampu menurunkan stunting, meningkatkan kualitas belajar, memperkuat kesehatan anak-anak, dan menggerakkan ekonomi lokal, maka biaya besar yang dikeluarkan dapat dianggap sebagai investasi masa depan.

Namun jika program itu hanya menghasilkan angka-angka seremonial tanpa perubahan nyata, maka kritik publik menjadi sesuatu yang sah dan perlu.

Dalam politik, memang tidak ada makan siang gratis.

Setiap kebijakan yang berhasil akan menghasilkan kepercayaan. Setiap kepercayaan akan memperkuat posisi penguasa. Itu bukan masalah. Dalam demokrasi, legitimasi memang seharusnya diperoleh melalui kebijakan yang bermanfaat bagi rakyat.

Masalah muncul ketika tujuan utama sebuah program bukan lagi memperbaiki kehidupan warga, melainkan mempertahankan popularitas kekuasaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *