Politik bisa kotor, tapi yang bisa membasuh jadi bersih adalah kebudayaan. Demikian tegas Pak De Karwo, Gubernur Jatim biasa disapa dalam mengawali orasi budayanya. Konflik tak jarang terkontribusi dari interpretasi yang negatif terhadap peristiwa sejarah. Pemahaman sejarah yang baik akan menjadikan Indonesia kuat. Luka sejarah tidak boleh diproduksi untuk kepentingan politik. Karenanya menjadi tanggung jawab semua anak bangsa untuk menempatkan peristiwa sejarah menjadi pembelajaran berharga yang diperkuat oleh modal budaya dari bangsa ini. Ujar Pak De Karwo.
Sementara Kang Aher, demikian gubernur Jabar akrab disapa, menyatakan bahwa sejarah Pasundan bubat membawa beban psikologi. “Padahal itu cerita 610 tahun yang lalu. Mengapa orang Sunda tidak mau disebut orang Jawa, diantaranya terkontribusi oleh “luka” sejarah tersebut. Oleh karenanya emosi kolektif itu harus diakhiri dan kita adalah satu Jawa, “ujar Kang Aher. Pada konteks ke kinian, menurut Gubernur Jabar, bersatunya Sunda dan Jawa, dengan jumlah populasi 54 persen dari jumlah penduduk di Indonesia, maka kekuatan kebersamaan keduanya akan mengkontribusi secara signifikan bagi persatuan Indonesia di tengah kebhinekaan.
Pesan yang sama juga ditekankan Sri Sultan Hamengku Buwono X, perlu langkah memutus sejarah kelam. Salah satunya disimbolkan pada tahun sebelumnya (2017) di DIY, telah dilaunching jl. Pasundan yang terhubung dengan jl. Majapahit di Yogyakarta.












