Lebih jauh, Hasto mengingatkan bahwa makna menjadi pahlawan tidak berhenti pada simbol atau ritual tahunan. Pahlawan, katanya, adalah mereka yang berani mengorbankan kepentingan pribadi demi kemanusiaan dan keadilan sosial.
“Menjadi pahlawan itu bukan persoalan politik, bukan soal kekuasaan. Tapi soal kepeloporan, integritas moral, dan pengorbanan untuk rakyat. Pahlawan itu yang mengangkat martabat bangsa, bukan yang memperkaya diri dengan korupsi,” tutur Hasto.
Ia menegaskan, dalam konteks kekinian, perjuangan intelektual dan moral menjadi medan baru bagi generasi muda untuk menunjukkan kepahlawanan. Dengan membaca ulang pemikiran Bung Karno, kata Hasto, pemuda Indonesia dapat menemukan arah perjuangan baru di tengah krisis kemanusiaan dan ketimpangan dunia digital.
“Semangat Bung Karno harus dihidupkan kembali, bukan sekadar dalam upacara, tapi dalam cara berpikir dan bertindak. Itulah makna sejati menjadi anak ideologis bangsa,” pungkasnya.*












