“Tadi Wali Kota EC menyebut konsep ‘wali taman’, karena ada banyak dunia usaha ikut bersama merevitalisasi Taman Harmoni. ‘Wali-wali taman’ itulah yang nanti ikut merawat. Ini luar biasa, bagaimana gotong royong digerakkan untuk membangun Surabaya,” jelas Eri.
Ia menyebut, pendekatan partisipatif ini selaras dengan praktik pembangunan urban di berbagai kota dunia, yang menempatkan warga dan pihak swasta sebagai mitra aktif pembangunan, bukan sekadar objek.
“Kolaborasi bersama warga bukan berarti pemerintah lepas tangan. Justru kolaborasi itu akan memastikan program pembangunan kota sukses dan dirasakan masyarakat,” lanjutnya.
Aspek ketiga yang tak kalah penting, lanjut Eri, adalah keberlanjutan kota. Taman Harmoni kini tak sekadar ruang hijau, tapi ruang publik yang menyatukan fungsi ekologis, edukatif, ekonomi, dan sosial.
Dengan arsitektur lanskap yang tertata, sebaran vegetasi yang rapi, hingga taman tematik berbasis benua, Taman Harmoni kini menjadi ruang urban yang inspiratif.
“Ruang ketiga mewujud ke dalam taman kota, kafe atau warung kopi, perpustakaan, trotoar, gelanggang olahraga, dan sebagainya. Masyarakat urban membutuhkan ruang alternatif. Program revitalisasi Taman Harmoni yang dirancang Wali Kota Eri Cahyadi telah membuat taman tersebut menjadi ruang ketiga yang menyeimbangkan antara ruang pertama yaitu rumah, dan ruang kedua yaitu tempat bekerja, kuliah atau sekolah,” urainya.












