Simbol negara seperti Merah Putih bukan sekadar identitas visual. Ia adalah representasi dari sejarah panjang, perjuangan berdarah, dan tekad kolektif untuk merdeka.
Ketika simbol tersebut dipadankan, bahkan secara tidak sengaja, dengan simbol fiksi atau hiburan, maka yang terganggu bukan hanya estetika, tetapi juga nilai.
Fandom memang bisa jadi ruang edukasi, solidaritas, dan kreativitas. Namun penting bagi kita semua terutama para pendidik, orang tua, pembuat kebijakan, dan pelaku media untuk menanamkan kecerdasan kontekstual dalam nasionalisme generasi muda. Jangan biarkan nasionalisme terjebak pada seremoni semata, namun hadir dalam keseharian yang penuh makna.
Di sinilah peran Kota Surabaya sebagai Kota Pahlawan menjadi penting. Surabaya harus menjadi contoh nasionalisme progresif yakni nasionalisme yang tidak alergi terhadap budaya populer, tapi mampu menempatkan simbol negara pada posisi yang pantas.
Pemerintah kota, sekolah, komunitas seni, dan media lokal seperti kami, harus membuka ruang diskusi dan edukasi yang jernih dan membumi.
Nasionalisme tak harus kaku. Ia bisa muncul dalam video kreatif, karya seni, atau even digital asal nilai dasarnya tidak luntur.









