Agus juga mengingatkan bahwa penanganan pasca-kejadian tidak hanya sebatas evakuasi fisik, namun juga mencakup pemulihan psikologis, yang dapat berdampak jangka panjang apabila tidak ditangani secara serius.
Menurut Agus, kegagalan dalam menangani krisis semacam ini akan berdampak pada kepercayaan publik terhadap transportasi laut secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan bahwa standar keselamatan, kelayakan kapal, serta kualitas layanan pelayaran ditingkatkan secara konsisten dan sistemik.
“Jangan sampai ada keraguan di masyarakat untuk menggunakan transportasi laut kita, sehingga kepercayaan publik menurun,” serunya.
Diketahui, hingga Kamis (03/07/25), upaya pencarian terhadap 28 korban yang masih hilang terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Proses pencarian diperluas hingga lebih dari enam mil laut dari lokasi kejadian. Sementara itu, sebanyak 21 korban selamat yang berdomisili di Banyuwangi telah dipulangkan ke keluarga masing-masing pada Rabu malam.
Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Ribut Eko Suyatno, mengatakan bahwa operasi pencarian diperkuat dengan dukungan alat utama (alut) dari berbagai potensi SAR, termasuk kapal perang milik TNI AL seperti KRI Teluk Ende dan KRI Tongkol, serta helikopter dari Baharkam Polri dan unsur swasta.
“Tim SAR gabungan semakin diperkuat dengan penambahan alut yang akan mengoptimalkan pencarian,” pungkas Eko. (Caa)











