Erma juga mengingatkan bahwa jika tidak ada intervensi dari pemerintah, penurunan harga gabah ini dapat memicu gejolak di pasar. Karena Panen raya seharusnya bisa berjalan dengan baik jika gabah terserap secara optimal oleh Bulog, sehingga tidak berdampak negatif pada inflasi dan ketersediaan komoditas beras.
“Ini yang perlu diantisipasi, jangan sampai panen raya menjadi pemicu gejolak harga. Kita sudah menghitung terkait lahan dan produktivitasnya, sehingga harus benar-benar terserap agar tidak mengganggu inflasi dan pasokan beras,” tegas politisi perempuan dari Dapil Blitar Tulungagung ini.
Seperti diketahui, Jawa Timur saat ini memasuki musim panen padi dengan luas baku sawah mencapai 1.207.997 hektare, menyumbang 17,48 persen terhadap produksi beras nasional. Sepanjang tahun 2024, produksi padi di provinsi ini mencapai 9,27 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), mengalami penurunan sebesar 0,44 juta ton atau 4,53 persen dibandingkan tahun sebelumnya.



