Apalagi sudah ada calon investor asal China yang tertarik menanamkan modalnya di sektor logam nonferrous. Investor tersebut memerlukan lahan sekitar 400 hektare dengan proyeksi penyerapan tenaga kerja hingga 10.000 orang.
BHS mengatakan, kawasan industri yang saat ini dikelola PT SIER di Surabaya dan Pasuruan sudah nyaris penuh. Oleh karena itu, pengembangan kawasan industri baru di Ngawi menjadi sebuah kebutuhan strategis. Terlebih, dokumen Pertimbangan Teknis (Pertek) untuk kawasan tersebut telah disetujui oleh kementerian terkait.
“Lahan industri ini telah diajukan ke Perhutani dua tahun lalu. Saat ini, dokumen Pertimbangan Teknis (Pertek) telah rampung dan hanya menunggu persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK),” ujar BHS.
Ia juga menegaskan pentingnya percepatan realisasi kawasan industri Ngawi agar Indonesia tidak kehilangan peluang investasi ke negara competitor seperti Thailand atau Malaysia.
“Investasi dari China ini berpotensi menyerap 10 ribu tenaga kerja. Jangan sampai lepas. Kita harus bergerak cepat. Belum lagi sudah ada 10 investor lain yang juga tertarik berinvestasi di Ngawi,” tegasnya.
SIER sendiri mengajukan lahan seluas 1.090 hektare untuk pengembangan kawasan industri di Ngawi. Jika terealisasi, BHS optimistis masuknya investor asing, terutama dari China, yang saat ini terdampak ketegangan dagang dengan Amerika Serikat, akan menjadi penggerak luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pembangunan kawasan industri Ngawi sudah masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Karena sudah berstatus PSN, saya siap membantu melakukan konsolidasi dengan kementerian terkait agar percepatan dapat segera dilakukan,” ungkapnya.












