“Yang S1 ARS iya betul, karena ke depan itu manajemen rumah sakit itu tidak harus dokter. Boleh perawat, boleh bidan, boleh orang yang nonkesehatan pun boleh, asalkan dia punya kompetensi. Berarti ukurannya adalah pendidikan yang berkaitan dengan administrasi rumah sakit. Maka kita buka itu. Semoga nanti responnya menjadi besar ke depannya,” jelas dr. Hidayatullah.
Ia mengakui bahwa saat ini prodi tersebut masih terdengar asing bagi sebagian masyarakat, namun regulasi yang ada memungkinkan tenaga nonmedis untuk berperan dalam manajemen rumah sakit.
“Mungkin masih asing karena masih banyak orang bertanya apa itu S1 Administrasi Rumah Sakit. Tapi ke depan, karena memang peraturannya memungkinkan tenaga nonmedis menjadi manajerial di rumah sakit, saya yakin program ini akan berkembang,” katanya.
Di Jawa Timur sendiri, program studi ini masih langka. Hanya sedikit perguruan tinggi yang telah membukanya, salah satunya Universitas Islam Malang (Unisma). Dengan strategi yang matang dan komitmen tinggi, UMAHA optimistis dapat terus mencetak lulusan berkualitas yang siap bersaing di dunia kerja.
“Belum banyak, belum banyak. Yang ada di swasta itu Unisma, itu juga baru. Selisih berapa bulan Unisma buka, kemudian berapa bulan kemudian kami buka. Belum banyak,” pungkasnya.



