“Untuk paket wisata atau hiburan ini, kita bekerjasama dengan sejumlah komunitas. Kita sediakan tempatnya mereka yang mengisi,” ujar Hidayat.
Penataan kawasan Kota Lama tidak hanya bertujuan untuk menarik wisatawan dan mendorong perekonomian masyarakat. Tetapi juga untuk mengenang kembali sejarah peradaban Surabaya. Dengan penataan yang terus berkembang, kawasan Kota Lama diharapkan menjadi pusat sejarah, kreativitas, dan kebersamaan untuk menghidupkan kembali semangat Surabaya sebagai Kota Pahlawan.
“Jadi kawasan Kota Lama ini tidak hanya sekadar sebagai destinasi wisata heritage, tetapi juga menjadi tempat destinasi wisata pendidikan, kuliner dan religi,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian, dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajat.
Penataan Kota Lama Surabaya terbagi ke dalam empat zona. Yakni, zona Eropa, Arab, Melayu, dan Pecinan. Di zaman pendudukan Belanda, kawasan ini menjadi pusat pemerintahan, bisnis, hingga pertukaran budaya.
Berbagai etnis pun berkumpul menjadi satu di kawasan ini, mulai Arab, Eropa, Madura, Melayu, Jawa, hingga Tionghoa.
Karena itu, Irvan menyatakan, penataan Kota Lama masih akan terus dilakukan, sehingga masing-masing zona tersebut saling terintegrasi. Salah satunya adalah kawasan Kota Lama zona Arab yang tengah dikembangkan untuk menguatkan identitas wisata Religi Sunan Ampel sebagai “moslem friendly tourism”.
“Selain itu juga akan dilakukan pengelolaan dan konektivitas zona. Sehingga terlihat hubungan yang harmoni antar budaya yang ada di kawasan tersebut,” ungkap Irvan.
Di kesempatan terpisah, Pengamat Budaya dari Komunitas Begandring Soerabaia, Nanang Purwono menilai, kawasan Kota Lama juga bisa menjadi tempat belajar sejarah. Bahkan, kawasan ini bisa tempat berburu kuliner yang menawarkan atmosfer perpaduan budaya.
“Kota Lama adalah bukti nyata bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan persatuan adalah kunci untuk mencapai kemajuan sebuah kota,” pungkas dia. (ADV)



