cakrawalanews.co – Di era media sosial yang serba visual, fenomena “social climber” atau “panjat sosial” semakin marak. Individu yang terjebak dalam perilaku ini berusaha meningkatkan status sosial mereka dengan bergaul dan memanfaatkan orang lain. Meskipun mungkin tampak menguntungkan di permukaan, psikologi di balik social climbing sebenarnya lebih kompleks dan melibatkan berbagai teori psikologi, seperti:
1. Kebutuhan akan Pengakuan
Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk dihargai dan diakui oleh orang lain. Social climber seringkali memiliki kebutuhan akan pengakuan yang sangat tinggi. Mereka ingin terlihat sukses, bergengsi, dan dikagumi oleh orang lain. Hal ini dapat mendorong mereka untuk bergaul dengan orang-orang yang dianggap “prestisius” dan memamerkan gaya hidup mewah mereka di media sosial.












