Yang menarik, Said justru membantah kalau Pilgub Jatim 2024 berpeluang besar calon tunggal karena PDI Perjuangan sudah ikut merapat mendukung Khofifah Indar Parawansa.
“Gak mungkin calon tunggal, PKB khan bisa maju sendiri. Ojok arogan pertanyaannya,” kelakar ketua DPP PDI Perjuangan ini.
Ia juga menolak menjadi salah satu kandidat kader PDI Perjuangan yang akan dipasangkan dengan Khofifah di Pilgub Jatim mendatang karena masih banyak kader PDI Perjuangan yang lebih layak.
“Kalau saya bajunya ngak pas, biar saya menjadi pelayan petugas partai karena saya ini sekarang tugasnya melayani petugas partai. Ingin berbuat sebaik-baiknya dimanapun kami diberi tanggungjawab oleh partai, baik oleh ibu ketua umum langsung maupun sekarang ini sebagai ketua DPD PDI Perjuangan Jatim,” tegas Buya Said sapaan akrabnya.
Secara khusus Buya Said juga mengintruksikan kepada seluruh kader dan pengurus PDI Perjuangan di Jatim agar tidak meninggalkan dan selalu memperhatikan wong cilik.
“Hasil evaluasi DPD dan temuan dari hasil 6 lembaga survey dapat disimpulkan bahwa mulai sekarang kerja kerja politik harus diabdikan kepada wong cilik,” pintanya.
Intruksi tersebut sangat masuk akal karena singgungan PDI Perjuangan yang paling besar di Jatim berasal di wong cilik. Bahkan hasil perolehan suara Pileg 2024, kata Said hampir 28 persen berasal dari pemilih segmentasi NU. Ketika digali lebih dalam, kawan–kawan NU yang manakah yang memilih PDI Perjuangan, ternyata pada arus yang sama yaitu wong cilik.












