Ketika ditanya tentang politik transaksional dan politik uang, Sadad berkilah bahwa dirinya miris melihat fenomena itu.
“Maraknya politik uang itu karena kegagalan politikus meyakinkan publik serta ketidakmampuan _delivering_ isu-isu politik sebagai isu publik,” tegasnya.
Wakil Ketua DPRD Jatim tersebut menilai, masyarakat mulai apatis dengan pemilu karena menganggap pemilu itu hanya kepentingan parpol dan kontestan semata. Di samping aspirasi mereka kurang terakomodasi lewat partai politik. Sehingga, kontestan pemilu akhirnya menggunakan politik uang untuk menarik dukungan masyarakat.
“Publik menilai pemilu itu kepentingan kontestan pemilu, _gak_ ada urusan dengan kepentingan mereka sendiri,” papar Sadad.
“Politik uang itu akhirnya menjadi jalan pintas,” tambahnya.









