“Kemampuan fondasi ini dapat dibina menggunakan struktur kurikulum PAUD maupun SD, sehingga secara sistemik menjadi bagian dari pembelajaran dan pembiasaan di satuan PAUD mapun SD,” katanya.
Ia juga menjelaskan secara rinci enam kemampuan fondasi anak. Pertama, mengenal nilai agama dan budi pekerti, seperti mengenal konsep Tuhan Yang Maha Esa dan kewajiban seorang hamba untuk beribadah serta bersedia menjalin interaksi dengan teman sebaya. Kedua, keterampilan sosial dan bahasa, seperti mengucapkan kata “tolong, maaf dan terimakasih”. Ketiga, kematangan emosi, seperti sudah belajar sabar menunggu atau antri dan juga sudah fokus memperhatikan guru saat memberikan materi.
Selanjutnya yang keempat, pemaknaan terhadap belajar yang positif, seperti senang datang ke sekolah, mau mencoba kembali dan memperbaiki pekerjaan jika melakukan kesalahan dan sudah mulai berani bertanya. Kelima, pengembangan keterampilan motorik dan perawatan diri, seperti tahu barang miliknya, membereskan tas sendiri, dan menjaga kebersihan diri sendiri. Keenam, kematangan kognitif yang cukup untuk melakukan kegiatan belajar, seperti sudah bisa menyampaikan gagasan dan pendapatnya.“Enam kemampuan fondasi anak ini adalah hak setiap anak dan kita harus memenuhinya,” tegasnya.
Di Kota Surabaya, lanjut Rini, gerakan transisi PAUD ke SD yang menyenangkan ini sudah dilaksanakan dengan melibatkan berbagai pihak, seperti 16 OPD Gugus Tugas PAUD HI, sekolah-sekolah PAUD dan SD, guru-guru PAUD dan SD, Kader TP PKK, orang tua, dan masyarakat. Bahkan, ia memastikan pihaknya sudah melakukan sosialisasi, pelatihan, bimbingan, monitoring, dan evaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa gerakan ini berjalan dengan lancar dan efektif.
“Bahkan, di Surabaya saat ini proses penerimaan peserta didik baru pada pendidikan dasar (SD/MI) sudah menghilangkan tes calistung, terus juga menerapkan masa perkenalan bagi peserta didik baru selama 2 minggu pertama, dan juga menerapkan pembelajaran yang membangun enam kemampuan fondasi anak yang dibangun secara kontinue dari PAUD hingga kelas 2 SD,” tegasnya.
Rini juga memastikan Pemkot Surabaya telah melakukan berbagai kegiatan untuk mendukung gerakan ini, baik dari sisi kebijakan, anggaran, fasilitasi, maupun advokasi. Salah satu yang sudah dilakukan adalah sosialisasi dan advokasi ke seluruh satuan pendidikan PAUD (TK/KB/TPA/PPT/RA/BA) dan SD, baik negeri maupun swasta. Melaksanakan coaching clinic terkait gerakan ini, pembentukan Forum Komunikasi PAUD-SD, dan penyusunan Instruksi Wali Kota, Surat Edaran, dan SOP Gerakan Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan.
Selain itu, pemkot juga menggelar seminar transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan dan Parenting Akbar Bersama Elly Risman, Gebyar Kreativitas Anak PAUD, Sekolah Orang Tua Hebat di 153 Kelurahan, dan Surat Edaran kepada semua sekolah dasar negeri dan swasta di Kota Surabaya untuk menghapus tes calistung atau tes baca tulis hitung dari proses penerimaan peserta didik baru.












