“Kami Mahasiswa sering melakukan demo di kantor DPRD, tapi yang ada kami dihalang-halangi untuk bertemu dengan wakil rakyat. Ini kan bentuk memisahkan kami untuk berdialog dengan wakil rakyat. ada polisi yang menghalangi, ada kawat berduri juga. Padahal kami datang dengan tujuan baik, tapi diperlakukan seperti itu ? ” ungkap salah satu mahasiswa hadir di acara workshop.
Sementara Mahasiswa yang lain langsung mencecar soal keseriusan anggota dewan merealisasikan tuntutan mahasiswa yang datang meenyampaikan keinginnnya pada anggota Dewan.
“Saya juga heran kenapa ketika kami menyampaikan sebuah tuntutan, menyampaikan sebuah keinginan kok realisasinya lama, bisa berminggu minggu. sampai kami datang lagi juga belum ada tindakan. wakktu itu ada masalah di Kedawung. Uniknya begitu sekarang mau pemilihan baru kami diperhatikan dan direalisasikan,?” tanya Mahasiswa lainnya.
Menanggapi pertanyaan tersebut, “Soal merasa dihalangi, itu kan protap dari Tim keamanan. Mereka hanya menjalankan tugas, agar aksi demo aman dan tenang. Saya malah senang jika harus ketemu pendemo. Bagi saya sudah tidak jamannya lagi demo sambil bakar bakar ban. karena dampaknya kecil. kalau mau demo ya kasih kami data, apa maslahnya. tapi ya juga solusinya. tapi kalau cuma orasi tapi gak menawarkan solusi ya susah, ” jawab Rohani.












