Siswa-siswa diidentifikasi tingkat kemampuan literasinya melalui asesmen diagnostik, dan kemudian dikelompokkan berdasarkan level kemampuannya. Pembelajaran dilakukan berdasarkan level masing-masing kelompok siswa.
Dia mengawal agar pendekatan ini benar-benar dijalankan. Hasilnya kemudian terlihat dalam waktu yang tidak begitu lama. Rata-rata dalam 4 minggu, pendekatan ini telah mampu meningkatkan keterampilan literasi siswanya.
Melalui sosial medianya, Ibu Rukmini kemudian menyebarluaskan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi dengan pencapaian yang telah terjadi di sekolahnya. Cerita baik yang dia bagikan itu kemudian menarik perhatian madrasah-madrasah lain untuk mendapatkan pembekalan yang serupa. Ibu Rukmini kemudian mendapat banyak permintaan untuk memberikan pelatihan bagi guru di berbagai madrasah di Kabupaten Bima.
Hingga saat ini, dengan dukungan berbagai pihak, sudah 63 madrasah dari 7 kecamatan di Kabupaten Bima yang mengenal dan mendapatkan pembekalan terkait pembelajaran berdiferensiasi. Semua kegiatan pembekalan itu dibiayai oleh dana swadaya dari madrasah.
Selain Puji dan Rukmini, ada pula Siti Saudah SPd (Kepala SD Inpres Langira, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur), Umi Salamah MPdI MM (Kepala MI Ma’arif Ketegan, Sidoarjo), dan Bustanul Arifin SPd MPd (Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kabupaten Pasuruan) yang berbagi praktik-praktik baik di tempatnya bertugas di lokakarya ini.
Acara ini dilakukan seiring dengan keputusan Kemenag yang siap mendukung kebijakan penerapan Kurikulum Merdeka untuk memperlancar proses pemulihan pembelajaran (learning recovery). Berdasarkan studi yang dilakukan INOVASI, program kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Australia, menunjukkan bahwa asesmen diagnostik, pembelajaran terdiferensiasi, dan penyederhanaan kurikulum berkontribusi dalam proses pemulihan pembelajaran di bidang literasi dan numerasi.
Ditemukan pula indikasi pemulihan hasil belajar literasi dan numerasi setara dengan dua bulan pembelajaran. Studi ini melibatkan 4.103 siswa, 360 guru di 69 sekolah dari 7 kabupaten di 4 provinsi mitra Program INOVASI di Indonesia yaitu Provinsi Jawa Timur, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Para peserta juga dilatih bagaimana mendokumentasikan, mempublikasikan, dan menyebarluaskan praktik baik implementasi Kurikulum Merdeka. Diharapkan mereka nanti bisa menulis maupun merekam kegiatan di tempatnya bertugas dan menyebarkan informasi bermanfaat itu ke sekolah-sekolah lain melalui platform media digital.
Pemateri mengenai publikasi ini adalah Muhtadin AR (Kabag TU Pusdiklat Teknis Kemenag RI), Yuyun Wulandari (Pranata Humas Dirjend Pendis Kemenag RI), Endah Imawati (Redaktur Senior Harian Surya dan Tribun Jatim), dan Erix Hutasoit (Communication Manager INOVASI).
Pada hari kedua, digelar Bedah Buku “Kisah Transformasi Pembelajaran di Daerah” yang dihadiri Lalu Hamdian MPd (Dosen PGSD – FKIP UNRAM, Nusa Tenggara Barat), Sunan Fanani (Sekretaris LP Ma’arif NU, Jawa Timur), Agnes Swetta Pandia (Jurnalis senior KOMPAS), dan George Adam Sukoco MERL (INOVASI Jakarta).
Buku ini merupakan kompilasi 55 naskah praktik baik dari Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Utara yang bercerita tentang transformasi pembelajaran yang terjadi di masa pandemi. Naskah praktik baik ini ditulis oleh para pengambil kebijakan, kepala sekolah, pengawas, guru, dan komunitas masyarakat. Isinya bercerita tentang upaya daerah untuk menyelenggarakan pembelajaran di masa pandemi. Termasuk upaya melakukan learning recovery, dimana karakteristik kurikulum merdeka menjadi senjata andalannya.



