Dikatakannya, masyarakat Indonesia tidak terlalu perduli terhadap pentingnya kekayaan literasi. Sehingga jika ada kabar yang tersebar, seringkali ditelan mentah-mentah. Lebih bahayanya lagi mereka juga ikut menyebarkan, sehingga makin cepat penyebarannya.
Keawaman itu yang dia maksudkan lumrah dijadikan kesempatan dan ditunggangi orang yang mempunyai kepentingan. “Orang lain yang tidak tau keasliannya, ikut menyebarkan, dan itu menjadi masif menjelang pemilu,” tuturnya.












