Penguatan kualitas demokrasi juga menjadi pembahasan AHY dengan para akademisi di Monash University dan University of Melbourne di Kota Melbourne.
“Banyak sekali ilmuwan dari Monash yang berkaliber dunia, termasuk mereka yang memliki minat khusus tentang studi Indonesia dan Asia Tenggara,” AHY menerangkan. Dalam diskusi AHY menjelaskan arti penting hubungan Indonesia-Australia, isu-isu global yang harus dihadapi bersama, serta sejumlah isu-isu demokrasi, baik di tataran global maupun di Tanah Air.
Di Monash University, AHY diterima oleh Prof. Susan Elliott AM, selaku Provost & Senior Vice President kampus Monash di Clayton, yang menjelaskan tentang sejarah dan perkembangan Monash University. Hadir pula dalam diskusi Dr. Howard Manns dari Herb Feith Centre, Prof. Julian Millie yang merupakan pakar dari Indonesian Studies, Prof. Andreas Ernst, Prof. Diego Ramirez, Dr. Paul Kellner. Turut bergabung via online, Prof. Andrew MacIntyre selaku Pro Vice-Chancellor & President Monash University Indonesia. Sementara di University of Melbourne, AHY berdiskusi dengan akademisi dipandu Prof. Vedi Hadiz, salah satu akademisi terkenal asal Indonesia yang sudah lama menetap dan berkarya di Melbourne.
Kunjungan AHY ke tiga kampus ini, merupakan bagian dari lawatan AHY ke Australia dalam rangka Spesial Visit Program atas undangan pemerintah Australia melalui Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia. Sebelumnya, AHY juga bertemu dan berdiskusi dengan Gubernur Jenderal, jajaran menteri, senator dan para pembuat kebijakan.



